Sabtu, 25 Januari 2014

Roy Marten: Banjir Ini Akibat Kita Jahat Pada Alam

Bencana banjir yang kembali melanda menurut Roy Marten karena kejahatan manusia terhadap alam. Tidak hanya pada alam Jakarta melainkan juga daerah penyangga. Apalagi kejahatan pada alam ini telah berlangsung cukup lama.
“Bencana ketika kita berbuat jahat pada alam. Alam akan marah. Hari ini sudah banjir tapi kesalahan puluhan tahun. Kita jahati alam. Kita rusak alam. Banjir di Jakarta, ada faktor Bogor, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya,” kata Roy di Studi Inter, Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (18/1).
Selain itu kontur tanah Ibukota tersebut juga berada di bawah permukaan lain. Sehingga air dengan mudah cepat tergenang. Bahkan kejadian ini telah terjadi sejak zaman Belanda menurut Roy Marten.
Roy Marten. ©KapanLagi.comRoy Marten. ©KapanLagi.com
“Kontur tanah di Jakarta, di bawah permukaan laut sejak zaman Belanda,” sambungnya.
Karena itu dibutuhkan penanganan yang baik dari kepala daerah terhadap banjir di Jakarta. Roy melihat penanganan dari pemerintah yang ada saat ini cukup baik dan apabila masyarakat kembali berperilaku baik pada alam maka kerusakan yang ada dapat diperbaiki.
“Penanganan Jokowi sudah sangat baik. Tapi Jokowi bukan Tuhan, butuh 4-10 tahun untuk mengatasi kerusakan. Dia sudah keduk tanah-tanah, tapi perilaku manusia tidak berubah,” imbuhnya.
SUMBER http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/roy-marten-banjir-ini-akibat-kita-jahat-pada-alam-e7ebfa.html

Saipul Jamiell Salut Pada Usaha Jokowi Atasi Banjir

Pedangdut Saipul Jamiell salut pada usaha Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi, yang secara cepat mengatasi masalah banjir di sudut-sudut ibukota. Meski hujan secara merata tiap harinya selalu turun, namun kondisi ketinggian air dirasakan Ipul berbeda dengan tahun sebelumnya.
"Jokowi sudah bagus, surutnya air cepat. Dan saya lihat tahun lalu istana sampai kebobolan, tahun ini aman-aman saja," ujarnya di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (20/1).
Saipul JamiellSaipul Jamiell

Memang tidak mudah bagi Jokowi secara cepat mengatasi masalah tahunan yang melanda ibukota. Tetapi, mantan suami Dewi Perssik itu juga meminta peran dari masyarakat itu sendiri agar banjir bisa diatasi.
"Ini butuh proses, bukan suntik langsung sembuh. Ngusir warga saja susah, padahal buat kebaikan juga, buat lewatnya air. Airnya ngamuk, sudah dijadiin dataran, jadi gantian dong dia yang menjajah. Ini lebih ke arah perbuatan manusianya," paparnya.
Untuk itu, Ipul sebagai warga Jakarta sedikit memberikan masukan untuk solusi agar masalah banjir bisa segera dengan cepat diatasi. "Bikin danau buatan, itu caranya. Pas air banyak, tidak langsung mengalir ke selokan," pungkasnya
SUMBER  http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/saipul-jamiell-salut-pada-usaha-jokowi-atasi-banjir-aa69de.html

Penanganan Banjir Jakarta 2014 Lebih Baik

 
Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengklaim penanganan bencana banjir di Jakarta pada tahun ini lebih baik dibanding dengan tahun lalu.

“Walau tidak 100% sempurna, penanganan banjir di Jakarta pada tahun ini dirasa lebih baik,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Selasa (21/1).

Lebih baiknya penanganan banjir di Ibu Kota pada tahun ini bisa dilihat dari sejumlah indikasi. Antara lain luas wilayah di Jakarta yang terkena banjir pada 2013 mencapai 2.143 hektare atau 30% dari luas total wilayah. Pada tahun ini, wilayah yang terkena berkurang menjadi 1.425 hektare atau 20% dari total wilayah Ibu Kota.

Menurunnya wilayah yang terkena banjir otomatis mengurangi jumlah RT/RW yang terendam. Saat 2013 ada 1.177 dan 508 RT/RW yang kebanjiran, pada tahun ini menyusut jadi 696 dan 385.

Berkurangnya wilayah yang terendam otomatis bermuara pada penurunan jumlah pengungsi. Jika pada tahun lalu ada 83.930 warga yang mengungsi di 307 titik pengungsian, pada tahun ini jumlah pengungsi merosot jadi 44.784 orang di 197 titik.

“Jumlah korban meninggal juga menurun dari tahun lalu 41 orang, tahun ini ada 7 orang,” tambahnya.

Berkenaan dengan kerugian akibat banjir, Sutopo mengaku belum bisa diperbandingkan lantaran data kerugian pada saat ini sedang direkap. Pada tahun lalu kerugian akibat banjir di DKI mencapai Rp7 triliun.

Penanganan lebih baik lantaran antisipasi penanganan bencana banjir sudah disiapkan jauh-jauh hari. BNPB bersama pihak terkait telah melakukan pelatihan kondisi darurat, evakuasi untuk pengungsi, kebutuhan untuk pengungsi sudah disiapkan, pendanaan, peralatan, sebelum banjir datang.

Apalagi ditambah dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum yang sudah memperkuat tanggul-tanggul sungai di Kanal Banjir Barat, dengan harapan tidak ada lagi tanggul yang jebol sehingga debit air dapat terus dikendalikan.

Selain itu, Sutopo juga mengatakan bahwa BNPB telah memberikan perahu polyethylene sebanyak 50 unit dan sudah didistribusikan melalui BPBD DKI. Dari 50 unit perahu polyethylene, 12 unit sudah didistribusikan ke kecamatan dan 38 unit sisanya didistribusikan ke kelurahan yang terkena banjir. (Cornelius Eko Susanto)
SUMBER http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2014/01/21/5/209602/Penanganan-Banjir-Jakarta-2014-Lebih-Baik

KORBAN BANJIR

BANJIR meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi para korban pasalnya banjir tahun ini meninggalkan kerugian bagi kota Jakarta, inilah beberapa kerugia akibat banjir tahun 2014 ini:

1. Kerugian materil
Kerusakan dan kerugian di sektor perumahan. Sekitar 146 ribu rumah penduduk di wilayah Jabodetabek (termasuk di wilayah DKI Jakarta yang mencapai hingga 90 ribu rumah) yang tergenang, dengan kondisi rusak ringan, rusak berat atau hilang karena hanyut tersapu banjir. Dengan menggunakan beberapa asumsi karena belum tersedianya validasi data yang rinci, maka nilai kerusakan dan kerugian di sektor perumahan mencapai Rp.1,13 triliun (rincian pada tabel 2), dengan asumsi yang digunakan:
a. Komposisi rumah hilang karena tersapu banjir, rumah rusak berat dan rusak ringan yaitu berturut-turut sebesar 10%, 15% dan 75%.
b. Nilai kerugian yang diderita karena rumah hilang rata-rata sebesar Rp10 juta per rumah, termasuk nilai terhadap kerugian harta bendanya, dengan pertimbangan bahwa rumah hilang umumnya merupakan rumah nonpermanen di bantaran sungai.
c. Sementara nilai terhadap kerusakan dan kerugian yang diderita pemilik yang rumahnya mengalami rusak berat, termasuk kerusakan dan kerugian furniture, peralatan serta pakaian, diperkirakan sebesar rata-rata Rp20 juta per rumah.
d. Sedangkan untuk nilai kerusakan dan kerugian yang dialami rumah yang rusak ringan, termasuk furniture dan peralatan rumah, nilainya sebesar Rp5 juta per rumah.
e. Selain bangunan rumah yang terendam, maka prasarana lingkungan perumahan juga rusak terendam air. Untuk itu diasumsikan bahwa nilai prasana lingkungan ini sebesar 15% dari total nilai kerusakan dan kerugian sektor perumahan. Dengan demikian secara keseluruhan kerusakan dan kerugian di sektor perumahan mencapai Rp1,3 triliun.
f. Perhitungan dan asumsi nilai yang diterapkan untuk sektor perumahan ini, memperhatikan pengalaman yang dilakukan untuk pemulihan sektor perumahan pascabencana gempa bumi di Provinsi DIY dan Jawa Tengah, serta pascabencana tsunami di Pangandaran pada pertengahan tahun 2006 yang lalu.
Kerusakan dan Kerugian sektor Infrastruktur. Perkiraan nilai kerusakan dan kerugian sektor infrastruktur mencapai Rp854 miliar, yang terdiri dari nilai kerusakan fisik sebesar Rp328 miliar dan kerugian yang dialami oleh pemerintah serta BUMN/BUMD karena kehilangan pendapatan karena tidak dapat mengoperasikan fasilitas yang rusak tersebut mencapai Rp525,8 miliar. Nilai kerugian yang diperhitungkan ini baru pada tahap kerugian langsung yang dialami oleh pemerintah/BUMN/BUMD, belum termasuk kerugian tidak langsung yang dialami masyarakat pengguna atau pihak lain yang merugi akibat kerusakan sarana dan prasarana tersebut. Dari jumlah tersebut, sebagian besar atau Rp533,8 miliar merupakan aset milik pemerintah, termasuk BUMN/BUMD dan sisanya Rp320 juta merupakan aset milik swasta (rincian pada Tabel 3) 
Kerusakan dan kerugian sektor ekonomi produktif. Sektor ekonomi produktif yang tersebar di wilayah Jabodetabek, dari data yang diperoleh tercatat sejumlah industri, pasar serta PKL (pedagang kaki lima) yang menderita kerugian karena terendamnya pabrik, pasar serta fasilitas perekonomian lainnya. Tercatat kerusakan dialami oleh 75 industri besar, terutama industri otomotif dan elektronik, 560 industri tekstil di sentra industri Cipulir, 2100 unit usaha mebel yang berada di 24 sentra industri mebel di jakarta Timur dan Pondok aren Tangerang, 16.240 PKL di lima wilayah di DKI Jakarta serta 40 pasar tradisional. Perkiraan kerusakan dan kerugian setidaknya mencapai Rp2,9 Triliun. (rincian pada Tabel 4).  
Kerusakan dan Kerugian Sarana dan Prasarana Sosial, yang meliputi fasilitas pendidikan yang mencapai lebih dari 200 unit sekolah, 33 puskesmas dan pustu serta 3 rumah sakit, fasilitas keagaman, serta fasilitas sosial lainnya. 
Kerusakan dan Kerugian Sektor Lainnya, tercatat bencana banjir mengakibatkan kerusakan di sejumlah kantor pemerintahan, fasilitas keamanan dan ketertiban, serta kerusakan dan kerugian yang bersifat langsung (direct damage and loss) yang diharapi sektor keuangan dan perbankan.


 2.Kerugian Jiwa

"Data yang kita terima saat ini menunjukkan ada 7 korban banjir yang meninggal dunia. Penyebabnya sakit, tenggelam karena terpeleset atau terjatuh, hingga kesetrum. Korban yang ketujuh belum bisa kita publikasikan karena masih proses identifikasi kepolisian," ungkap Kepala Seksi Informatika dan Pengendalian BPBD DKI Bambang Surya Putra saat dihubungi di Jakarta.
Ketujuh korban meninggal tersebut antara lain Hidayat (35) warga Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Haji Masri (76) warga Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur, yang meninggal dunia karena sakit ketika banjir menerjang.
Kemudian Asep (27) warga Kelurahan Bintaro, Jakarta Selatan, dan seorang balita bernama Fatimah (5) warga Kelurahan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, yang meninggal karena tenggelam di lokasi banjir. Asep terpeleset di Kali Pesanggarahan, sedangkan Fatimah terperosok di saluran air.
Adapun Zulfikar (22) warga Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur meninggal dunia karena hanyut akibat arus deras. Serta Lalu Sutoyo (44) warga Kelurahan Kebon Bawang, Jakarta Utara, meninggal karena tersetrum listrik di rumahnya.
"Sedangkan yang korban ketujuh, merupakan warga Kelapa Gading, Jakarta Utara," ujar Bambang.
Terus bertambahnya korban meninggal dalam musibah banjir saat ini membuat BPBD DKI mengimbau warga yang berada di lokasi banjir agar selalu berhati-hati.
"Kami berharap tidak ada lagi penambahan jumlah korban akibat bencana banjir ini. Karena itu, kami minta warga lebih berhati-hati, segera mengungsi saja untuk menghindari hal-hal yang bisa mengakibatkan korban jiwa," imbau Bambang. (Mut/Sss)

"BANJIR TAHUN INI" SALAH SIAPA???


 Seperti yang kita ketahui banjir telah melanda jakarta beberapa hari ini. Banyak yang belum mengetahui penyebab dari banjir tersebut. Masyarakat yang mulai terbiasa/resah atas banjir tersebut mulai kebingungan atas beberapa program pemerintah yang bernilai triliunan tidak mendapatkan hasil untuk menyelamatkan jakarta. Banyak pihak yang menyalahkan Jokowi namun apakah ini semua salah beliau?? . Beliaupun hanya manusia yang tak luput dari salah ,,,Mari kita lihat proyek Jokowi untuk menangani banjir:


1. Terowongan Raksasa
Proyek Deep Tunnel. Itulah terobosan anyar yang dirancang Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Terowongan berdiameter 16 meter itu akan dibangun dari MT Haryono hingga Pluit dan diprediksi memakan dana Rp 16 triliun.

"Terobosannya, terowongan. 16 Meter diameternya di bawah tanah. Berakhir di Pluit, mulainya di MT Haryono," kata Jokowi saat ditanya terobosan terbarunya tersebut.

Hal ini disampaikan Jokowi usai masuk ke dalam gorong-gorong di pinggiran trotoar kawasan HI arah Jalan Sudirman, tepatnya di seberang Menara BCA, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (26/12/2012).

"Kita berkejaran dengan pemukiman dan gedung. Kalau nggak ada terobosan, sudah puluhan tahun kebanjiran. Deep tunnel ya terobosan itu," lanjut ayah 3 anak ini.

Menurut dia, proyek deep tunnel akan cepat dilaksanakan dengan menggandeng investor.

"Belum (ada investor yang mengajukan diri -red). Tapi saya yakin ngantre itu nanti," jawab Jokowi ditanya investor yang sudah menyatakan berminat menggarap proyek tersebut.

 2. Pasang Pompa dan Perbesar Gorong-gorong
Jokowi menginstruksikan untuk pemasangan pompa di titik-titik banjir.

Pompa itu akan menyedot air dan mengalirkannya ke kawasan Cideng dan Waduk Melati.

"Sudah saya instruksikan pasang pompa, semuanya akan dipasang. Semua yang kita punya.
Sore ini dipasang," ujar Jokowi yang terbalut seragam Korpri warna biru itu usai masuk ke dalam gorong-gorong di pinggiran trotoar kawasan HI arah Jalan Sudirman, tepatnya di seberang Menara BCA, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (26/12/2012).

Menurut dia, penyelesaian jangka pendek saat ini yang lebih diutamakan agar tidak menyusahkan masyarakat.

"Pompa dari PU, dan pemadam, semua dikerahkan ada 4 titik di sini, Trisakti, Gatot Subroto. Ini jangan sampai kejadian kayak kemarin. Harus ada action," papar dia.

Terobosan jangka panjang, lanjut Jokowi, akan memperbesar gorong-gorong. "Diperbesar tapi nunggu anggaran (APBD 2012 diketok). Kejar-kejaran dengan Januari juga," ujar dia.

 3. 10 Ribu Sumur Resapan
Jokowi akan menggalakkan pembuatan 10 ribu sumur resapan. Dengan begitu, kualitas air tanah di Jakarta bisa terjaga.

"Kita ajukan kurang lebih 10 ribu sumur resapan. Kalau tidak dikerjakan juga, kualitas air tanah menjadi semakin tidak baik. Ya itu urusan Wali Kota perbaikan drainase. Semua ingin kita gerakkan," kata Jokowi usai menyambangi rumah korban banjir yang tewas, M Soleh, di RT 10 RW 01, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (25/12/2012).

Jokowi menjelaskan sumur resapan berfungsi mengurangi debit air dan memperbaiki kualitas air tanah.

"Ini nanti 100 sampai 200 meter (kedalamannya) ke bawah. Jadi langsung masuk ke bawah," ujar Jokowi.

Menurut dia, sumur resapan akan dibuat pada tahun 2013. "Di semua tempat. Realisasinya 2013. Ya habis diketok langsung realisasi pokoknya," kata Jokowi.

 4. Normalisasi Sungai
Jokowi ingin normalisasi sungai-sungai di Jakarta selesai tahun 2014. Normalisasi sungai ini penting untuk mengatasi banjir di Jakarta.

"Semuanya inginnya dipercepat, di Angke, di Ciliwung, Cengkareng Drain dan Kali Pesanggrahan. Kalau tidak, setiap tahun akan banjir seperti ini, 2014 inginnya secepatnya selesai," kata Jokowi di lokasi banjir di Jalan Adhi Karya, Kedoya Selatan, Jakarta, Sabtu (24/11/2012).

Masalah utama yang menghambat upaya normalisasi sungai itu adalah pembebasan lahan milik warga. Jokowi juga ingin hal itu bisa dipercepat.

Salah satunya, untuk normalisasi dan penataan daerah aliran sungai (DAS) Kali Pesanggrahan,
Jokowi sudah meningkatkan anggaran di APBD sampai 8 kali lipat menjadi Rp 400 miliar. Padahal sebelumnya hanya Rp 50 miliar.
Sumber http://news.detik.com/read/2012/12/28/103523/2128588/10/5/4-proyek-raksasa-penangkal-banjir-jokowi#bigpic

Nah  inilah beberapa proyek pak Jokowi. Jadi salah siapakah banjir tahun ini?? nah inilah jawabannya
"Ya, kesalahan masa lalu. Akar persoalannya pelanggaran tata ruang dan tata bangunan yang menyebabkan banjir Jakarta,” kata Edward Sihombing sebagaimana dikutip Warta Kota, Rabu.