BANJIR meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi para korban pasalnya banjir tahun ini meninggalkan kerugian bagi kota Jakarta, inilah beberapa kerugia akibat banjir tahun 2014 ini:
1. Kerugian materil
Kerusakan dan kerugian di sektor perumahan.
Sekitar 146 ribu rumah penduduk di wilayah Jabodetabek (termasuk di
wilayah DKI Jakarta yang mencapai hingga 90 ribu rumah) yang tergenang,
dengan kondisi rusak ringan, rusak berat atau hilang karena hanyut
tersapu banjir. Dengan menggunakan beberapa asumsi karena belum
tersedianya validasi data yang rinci, maka nilai kerusakan dan kerugian
di sektor perumahan mencapai Rp.1,13 triliun (rincian pada tabel 2),
dengan asumsi yang digunakan:
a. Komposisi rumah hilang karena tersapu
banjir, rumah rusak berat dan rusak ringan yaitu berturut-turut sebesar
10%, 15% dan 75%.
b. Nilai kerugian yang diderita karena
rumah hilang rata-rata sebesar Rp10 juta per rumah, termasuk nilai
terhadap kerugian harta bendanya, dengan pertimbangan bahwa rumah hilang
umumnya merupakan rumah nonpermanen di bantaran sungai.
c. Sementara nilai terhadap kerusakan dan
kerugian yang diderita pemilik yang rumahnya mengalami rusak berat,
termasuk kerusakan dan kerugian furniture, peralatan serta pakaian,
diperkirakan sebesar rata-rata Rp20 juta per rumah.
d. Sedangkan untuk nilai kerusakan dan
kerugian yang dialami rumah yang rusak ringan, termasuk furniture dan
peralatan rumah, nilainya sebesar Rp5 juta per rumah.
e. Selain bangunan rumah yang terendam,
maka prasarana lingkungan perumahan juga rusak terendam air. Untuk itu
diasumsikan bahwa nilai prasana lingkungan ini sebesar 15% dari total
nilai kerusakan dan kerugian sektor perumahan. Dengan demikian secara
keseluruhan kerusakan dan kerugian di sektor perumahan mencapai Rp1,3
triliun.
f. Perhitungan dan asumsi nilai yang
diterapkan untuk sektor perumahan ini, memperhatikan pengalaman yang
dilakukan untuk pemulihan sektor perumahan pascabencana gempa bumi di
Provinsi DIY dan Jawa Tengah, serta pascabencana tsunami di Pangandaran
pada pertengahan tahun 2006 yang lalu.
Kerusakan dan Kerugian sektor Infrastruktur.
Perkiraan nilai kerusakan dan kerugian sektor infrastruktur mencapai
Rp854 miliar, yang terdiri dari nilai kerusakan fisik sebesar Rp328
miliar dan kerugian yang dialami oleh pemerintah serta BUMN/BUMD karena
kehilangan pendapatan karena tidak dapat mengoperasikan fasilitas yang
rusak tersebut mencapai Rp525,8 miliar. Nilai kerugian yang
diperhitungkan ini baru pada tahap kerugian langsung yang dialami oleh
pemerintah/BUMN/BUMD, belum termasuk kerugian tidak langsung yang
dialami masyarakat pengguna atau pihak lain yang merugi akibat kerusakan
sarana dan prasarana tersebut. Dari jumlah tersebut, sebagian besar
atau Rp533,8 miliar merupakan aset milik pemerintah, termasuk BUMN/BUMD
dan sisanya Rp320 juta merupakan aset milik swasta (rincian pada Tabel
3)
Kerusakan dan kerugian sektor ekonomi produktif. Sektor ekonomi
produktif yang tersebar di wilayah Jabodetabek, dari data yang diperoleh
tercatat sejumlah industri, pasar serta PKL (pedagang kaki lima) yang
menderita kerugian karena terendamnya pabrik, pasar serta fasilitas
perekonomian lainnya. Tercatat kerusakan dialami oleh 75 industri besar,
terutama industri otomotif dan elektronik, 560 industri tekstil di
sentra industri Cipulir, 2100 unit usaha mebel yang berada di 24 sentra
industri mebel di jakarta Timur dan Pondok aren Tangerang, 16.240 PKL di
lima wilayah di DKI Jakarta serta 40 pasar tradisional. Perkiraan
kerusakan dan kerugian setidaknya mencapai Rp2,9 Triliun. (rincian pada
Tabel 4).
Kerusakan dan Kerugian Sarana dan Prasarana Sosial,
yang meliputi fasilitas pendidikan yang mencapai lebih dari 200 unit
sekolah, 33 puskesmas dan pustu serta 3 rumah sakit, fasilitas keagaman,
serta fasilitas sosial lainnya.
Kerusakan dan Kerugian Sektor Lainnya,
tercatat bencana banjir mengakibatkan kerusakan di sejumlah kantor
pemerintahan, fasilitas keamanan dan ketertiban, serta kerusakan dan
kerugian yang bersifat langsung (direct damage and loss) yang diharapi
sektor keuangan dan perbankan.
2.Kerugian Jiwa
"Data yang kita terima saat ini menunjukkan ada 7 korban banjir yang
meninggal dunia. Penyebabnya sakit, tenggelam karena terpeleset atau
terjatuh, hingga kesetrum. Korban yang ketujuh belum bisa kita
publikasikan karena masih proses identifikasi kepolisian," ungkap Kepala
Seksi Informatika dan Pengendalian BPBD DKI Bambang Surya Putra saat
dihubungi di Jakarta.
Ketujuh korban meninggal tersebut antara
lain Hidayat (35) warga Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Haji
Masri (76) warga Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur, yang meninggal
dunia karena sakit ketika banjir menerjang.
Kemudian Asep (27)
warga Kelurahan Bintaro, Jakarta Selatan, dan seorang balita bernama
Fatimah (5) warga Kelurahan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat,
yang meninggal karena tenggelam di lokasi banjir. Asep terpeleset di
Kali Pesanggarahan, sedangkan Fatimah terperosok di saluran air.
Adapun
Zulfikar (22) warga Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur meninggal dunia
karena hanyut akibat arus deras. Serta Lalu Sutoyo (44) warga Kelurahan
Kebon Bawang, Jakarta Utara, meninggal karena tersetrum listrik di
rumahnya.
"Sedangkan yang korban ketujuh, merupakan warga Kelapa Gading, Jakarta Utara," ujar Bambang.
Terus
bertambahnya korban meninggal dalam musibah banjir saat ini membuat
BPBD DKI mengimbau warga yang berada di lokasi banjir agar selalu
berhati-hati.
"Kami berharap tidak ada lagi penambahan jumlah
korban akibat bencana banjir ini. Karena itu, kami minta warga lebih
berhati-hati, segera mengungsi saja untuk menghindari hal-hal yang bisa
mengakibatkan korban jiwa," imbau Bambang. (Mut/Sss)