Sabtu, 25 Januari 2014

KORBAN BANJIR

BANJIR meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi para korban pasalnya banjir tahun ini meninggalkan kerugian bagi kota Jakarta, inilah beberapa kerugia akibat banjir tahun 2014 ini:

1. Kerugian materil
Kerusakan dan kerugian di sektor perumahan. Sekitar 146 ribu rumah penduduk di wilayah Jabodetabek (termasuk di wilayah DKI Jakarta yang mencapai hingga 90 ribu rumah) yang tergenang, dengan kondisi rusak ringan, rusak berat atau hilang karena hanyut tersapu banjir. Dengan menggunakan beberapa asumsi karena belum tersedianya validasi data yang rinci, maka nilai kerusakan dan kerugian di sektor perumahan mencapai Rp.1,13 triliun (rincian pada tabel 2), dengan asumsi yang digunakan:
a. Komposisi rumah hilang karena tersapu banjir, rumah rusak berat dan rusak ringan yaitu berturut-turut sebesar 10%, 15% dan 75%.
b. Nilai kerugian yang diderita karena rumah hilang rata-rata sebesar Rp10 juta per rumah, termasuk nilai terhadap kerugian harta bendanya, dengan pertimbangan bahwa rumah hilang umumnya merupakan rumah nonpermanen di bantaran sungai.
c. Sementara nilai terhadap kerusakan dan kerugian yang diderita pemilik yang rumahnya mengalami rusak berat, termasuk kerusakan dan kerugian furniture, peralatan serta pakaian, diperkirakan sebesar rata-rata Rp20 juta per rumah.
d. Sedangkan untuk nilai kerusakan dan kerugian yang dialami rumah yang rusak ringan, termasuk furniture dan peralatan rumah, nilainya sebesar Rp5 juta per rumah.
e. Selain bangunan rumah yang terendam, maka prasarana lingkungan perumahan juga rusak terendam air. Untuk itu diasumsikan bahwa nilai prasana lingkungan ini sebesar 15% dari total nilai kerusakan dan kerugian sektor perumahan. Dengan demikian secara keseluruhan kerusakan dan kerugian di sektor perumahan mencapai Rp1,3 triliun.
f. Perhitungan dan asumsi nilai yang diterapkan untuk sektor perumahan ini, memperhatikan pengalaman yang dilakukan untuk pemulihan sektor perumahan pascabencana gempa bumi di Provinsi DIY dan Jawa Tengah, serta pascabencana tsunami di Pangandaran pada pertengahan tahun 2006 yang lalu.
Kerusakan dan Kerugian sektor Infrastruktur. Perkiraan nilai kerusakan dan kerugian sektor infrastruktur mencapai Rp854 miliar, yang terdiri dari nilai kerusakan fisik sebesar Rp328 miliar dan kerugian yang dialami oleh pemerintah serta BUMN/BUMD karena kehilangan pendapatan karena tidak dapat mengoperasikan fasilitas yang rusak tersebut mencapai Rp525,8 miliar. Nilai kerugian yang diperhitungkan ini baru pada tahap kerugian langsung yang dialami oleh pemerintah/BUMN/BUMD, belum termasuk kerugian tidak langsung yang dialami masyarakat pengguna atau pihak lain yang merugi akibat kerusakan sarana dan prasarana tersebut. Dari jumlah tersebut, sebagian besar atau Rp533,8 miliar merupakan aset milik pemerintah, termasuk BUMN/BUMD dan sisanya Rp320 juta merupakan aset milik swasta (rincian pada Tabel 3) 
Kerusakan dan kerugian sektor ekonomi produktif. Sektor ekonomi produktif yang tersebar di wilayah Jabodetabek, dari data yang diperoleh tercatat sejumlah industri, pasar serta PKL (pedagang kaki lima) yang menderita kerugian karena terendamnya pabrik, pasar serta fasilitas perekonomian lainnya. Tercatat kerusakan dialami oleh 75 industri besar, terutama industri otomotif dan elektronik, 560 industri tekstil di sentra industri Cipulir, 2100 unit usaha mebel yang berada di 24 sentra industri mebel di jakarta Timur dan Pondok aren Tangerang, 16.240 PKL di lima wilayah di DKI Jakarta serta 40 pasar tradisional. Perkiraan kerusakan dan kerugian setidaknya mencapai Rp2,9 Triliun. (rincian pada Tabel 4).  
Kerusakan dan Kerugian Sarana dan Prasarana Sosial, yang meliputi fasilitas pendidikan yang mencapai lebih dari 200 unit sekolah, 33 puskesmas dan pustu serta 3 rumah sakit, fasilitas keagaman, serta fasilitas sosial lainnya. 
Kerusakan dan Kerugian Sektor Lainnya, tercatat bencana banjir mengakibatkan kerusakan di sejumlah kantor pemerintahan, fasilitas keamanan dan ketertiban, serta kerusakan dan kerugian yang bersifat langsung (direct damage and loss) yang diharapi sektor keuangan dan perbankan.


 2.Kerugian Jiwa

"Data yang kita terima saat ini menunjukkan ada 7 korban banjir yang meninggal dunia. Penyebabnya sakit, tenggelam karena terpeleset atau terjatuh, hingga kesetrum. Korban yang ketujuh belum bisa kita publikasikan karena masih proses identifikasi kepolisian," ungkap Kepala Seksi Informatika dan Pengendalian BPBD DKI Bambang Surya Putra saat dihubungi di Jakarta.
Ketujuh korban meninggal tersebut antara lain Hidayat (35) warga Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Haji Masri (76) warga Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur, yang meninggal dunia karena sakit ketika banjir menerjang.
Kemudian Asep (27) warga Kelurahan Bintaro, Jakarta Selatan, dan seorang balita bernama Fatimah (5) warga Kelurahan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, yang meninggal karena tenggelam di lokasi banjir. Asep terpeleset di Kali Pesanggarahan, sedangkan Fatimah terperosok di saluran air.
Adapun Zulfikar (22) warga Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur meninggal dunia karena hanyut akibat arus deras. Serta Lalu Sutoyo (44) warga Kelurahan Kebon Bawang, Jakarta Utara, meninggal karena tersetrum listrik di rumahnya.
"Sedangkan yang korban ketujuh, merupakan warga Kelapa Gading, Jakarta Utara," ujar Bambang.
Terus bertambahnya korban meninggal dalam musibah banjir saat ini membuat BPBD DKI mengimbau warga yang berada di lokasi banjir agar selalu berhati-hati.
"Kami berharap tidak ada lagi penambahan jumlah korban akibat bencana banjir ini. Karena itu, kami minta warga lebih berhati-hati, segera mengungsi saja untuk menghindari hal-hal yang bisa mengakibatkan korban jiwa," imbau Bambang. (Mut/Sss)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar